Friday, February 10, 2017

Mangut yang Bikin Manggut-manggut

Saya baru tahu kalau di Semarang banyak makanan enak. Kota ini menjadi destinasi yang menarik untuk yang suka berwisata kuiner. Banyak jenis makanan yang bisa dicoba. Salah satunya: mangut.

Pertama kali diajak makan mangut tahu, saya bertanya berkali-kali. Apa itu mangut? Karena menurut saya yang berasal dari Sumatera, nama tersebut terdengar aneh dan sesuatu yang menggelikan.

[caption id="attachment_1132" align="aligncenter" width="683"] mangut gudeg, foto: traveltoday[/caption]

Sebagai orang yang sangat suka mencoba sesuatu yang baru. Saya langsung penasaran ingin merasakannya. Prinsip saya kalau soal makanan, coba dulu. Kalau enak jadikan langganan. Kalau gak suka yang penting sudah tahu rasanya.

Menurut teman saya yang sangat suka makan, ada mangut yang palung enak dan sangat terkenal di Semarang. Yaitu di Warung Makan Sidorejo yang berada di Jalan Imam Bonjol No. 111, Semarang.

Waktu menunjukkan jam 9.30 pagi ketika kami tiba di sana. Wuih! Ternyata, kami harus antre. Tempat yang cukup besar untuk sebuah warung penuh. Kami harus menunggu tamu-tamu yang datang lebih dulu selesai makan agar bisa duduk bergantian.

[caption id="attachment_1136" align="aligncenter" width="700"] beragam makanan yang dapat anda nikmati di warung Sido Rejo, foto: traveltoday[/caption]

Sekitar 10 menit kemudian kami mendapatkan tempat duduk. Saya langsung pesan mangut tahu ditambah dengan nasi pecel koyor. Bukan karena rakus, tapi semata karena dua menu ini belum pernah saya coba.

Di depan saya tersaji satu mangkuk mangut tahu yang dibanderol Rp 9.000,-dan satu piring nasi pecel koyor seharga Rp 17.000,-. Saya dapat dua porsi makanan dengan harga yang tidak sampai Rp 30.000,-.

Mangut itu ternyata sepotong ikan yang telah diasapi, disajikan dengan sepotong tahu goreng kemudian diguyur kuah kacang. Setelah saya coba... Hmmmmm... Rasanya membuat saya manggut-manggut nikmat.

[caption id="attachment_1133" align="aligncenter" width="672"] pecel koyor, foto: traveltoday[/caption]

Sedangkan nasi pecel koyor itu nasi plus sayuran dan koyor itu adalah urat kaki sapi ditabur kuah pecel. Nasi pecel sudah biasa saya makan. Tapi koyor yang saya pikir awalnya kopyor ternyata urat kaki sapi yang direbus dengan bumbu mirip kikil sapi namun tanpa lemak. Rasanya kenyal dan lembut di mulut. Buat yang suka kikil, buntut ataupun kulit sapi pasti sangat menyukai koyor.

Teman-teman yang berkunjung ke Semarang, jangan lewatkan tempat ini. Dijamin pasti akan kembali lagi.

Zahrudin Haris, CEO Travel Today

Wednesday, February 8, 2017

5 Hari 4 Malam di Perairan Nusa Tenggara (Bagian Ketiga)

Lanjutan dari bagian kedua

Matahari belum lagi menampakkan sinarnya. Tapi gelap sudah memudar. Laut sangat tenang tak berombak. Embun tipis yang menyelimuti perlahan mulai menghilang.

Setiap hari  saya terbilang bangun paling pagi. Beradu cepat dengan pemandu kami yang sangat luar biasa. Ketika saya keluar dari kamar kabin, waktu baru menunjukkan pukul 5.30 pagi. Saya berjalan ke depan dan mendapati Bli Anto, pemandu kami telah duduk santai di anjungan.

[caption id="attachment_1120" align="aligncenter" width="960"] Zahrudin Haris (tengah) bersama Bli Anto (kiri), foto: traveltoday[/caption]

Saya bertegur sapa sejenak dengan bapak muda asal Bali yang telah lama tinggal di Lombok ini. Ia setiap minggu bekerja sebagai pemandu wisata, menyusuri pulau-pulau dari Nusa Tenggara barat ke timur. Begitu juga sebaliknya. Namun Bli Anto tidak pernah berhenti mensyukuri keindahannya. Banyak cerita menarik darinya. Termasuk cerita tempat yang akan kami kunjungi pagi ini, yaitu Pulau Komodo.

Menyusuri Jejak Komodo di Pulau Komodo

Setelah sarapan, kapal yang kami tumpangi berjalan perlahan menuju Pulau Komodo. Jarak dari Pulau Kalong tempat kami menginap semalam dengan pulau Komodo tampak tidak terlau jauh. Lebih kurang satu jam, kami sudah bersandar di dermaga Pulau Komodo. Dermaga ini tampak kokoh dan memanjang dari laut ke tepi pantai. Tampak sudah disiapkan untuk menyambut kedatangan semua turis baik domestik maupun mancanegara.

Pemandu kami mengingatkan untuk memakai perlengkapan trekking, karena kami akan menjelajahi pulau ini agar bisa menemukan dan melihat komodo dari dekat. Setelah siap, kami memasuki pulau.

Kami disambut oleh gerbang yang bertuliskan: Selamat Datang di Pulau Komodo. Pemandu kami membeli tiket masuk. Dan kami pun berkumpul mendengarkan arahan dari pemandu khusus Pulau Komodo. Sebagian besar pemandu khusus itu adalah penduduk lokal yang sudah sangat akrab dengan pulau ini.

[caption id="attachment_1121" align="aligncenter" width="960"] Gerbang masuk Pulau Komodo, foto: traveltoday[/caption]

Kami mendapatkan penjelasan singkat tentang pulau ini. Pulau yang berada di sisi selatan Nusa Tenggara Timur ini pertama kali diberi nama Pulau Komodo oleh Steyn vans Hens Broek. Ia adalah seorang peneliti asal Belanda  yang datang ke Pulau Komodo karena penasaran.  Ia ingin membuktikan cerita dari tentara Belanda tentang adanya hewan besar yang menyerupai naga di pulau ini.

Setelah datang ke Pulau Komodo, Steyn memburu dan membunuh seekor komodo dan mendokumentasikannya. Hasilnya dibawa ke Museum Zoologi di Bogor untuk diteliti. Hasil penelitiannya tersebut kemudian dipublikasikan pada tahun 1912. Sejak itulah berita tentang Pulau  Komodo dan hewan Komodo menyebar ke seluruh dunia.

Komodo adalah reptil darat terbesar di dunia yang sudah hampir punah. Binatang ini hidup endemik hanya di dua pulau, yaitu Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Kedua pulau ini berdampingan, dibatasi Selat Komodo dan berjarak lebih kurang 100 meter. Komodo termasuk jenis hewan karnivora, yang mempunyai lidah bercabang dua yang berfungsi sebagai pengecap. Komodo membuat sarang di dalam tanah.

Komodo termasuk binatang yang unik, karena mempunyai dua cara untuk bereproduksi. Pertama dengan cara pembuahan antara sang jantan dan sang betina (fertilisasi). Kedua dengan cara parthenogenesis, yaitu membuat seekor komodo betina menjadi hamil tanpa proses pembuahan. Tetapi cara ini mengakibatkan semua telur yang dilahirkan akan berjenis kelamin jantan. Namun sistem parthenogenesis inilah yang menyebabkan bertahannya spesies yang merupakan kerabat dinosaurus ini dari kepunahan.

Kami diberi tiga pilihan trip, yaitu trip satu jam, dua jam dan tiga jam. Karena cuaca mendung dan tampak akan hujan, kami memilih jalur yang dua jam. Ada dua orang yang memandu kami, satu di depan dan satu di belakang. Saya yang selalu penuh rasa ingin tahu, memilih berjalan berdampingan dengan pemandu yang di depan.

[caption id="attachment_1122" align="aligncenter" width="960"] rombongan turis sedang menjelajahi Pulau Komodo, foto: traveltoday[/caption]

Saya banyak bertanya tentang kondisi pulau ini. Menurut pemandu, pulau ini sebagian besar hutan lebat. Makin jauh dijelajahi makin lebat hutan yang dilewati. Ada banyak lokasi yang belum terjamah oleh manusia.

Karena kami datang di musim hujan, pulau ini tampak menghijau dan sangat subur. Jalur yang kami lalui sudah diberi tanda dan kami tidak boleh keluar jalur. Saya jadi ingat semasa sekolah dulu waktu aktif di pramuka dan pecinta alam yang harus menjelajah mencari tanda agar dapat lulus ujian kenaikan tingkat. Namun sekarang kami mencari tanda keberadaan komodo.

Karena rombongan yang agak besar, maka kami tidak bisa berjalan terlalu cepat. Dan hujan mulai turun. Pemandu kami berkata kalau hujan begini kemungkinan besar komodo jarang keluar dari sarangnya. Karena musim hujan sama dengan musim kawin. Mereka memilih tempat yang agak jauh dari penjelajahan manusia karena tidak ingin terganggu. Kami berjalan terus dan menemukan banyak jejak kaki komodo namun belum melihat keberadaan pemiliknya.

Beberapa saat kemudian, kami menemukan bekas sarang komodo. Sarang ini menyerupai gundukan tanah yang agak tinggi. Terlihat bekas pecahan cangkang telur komodo yang sudah lama. Kami melihat banyak burung, ayam hutan, monyet dan musang berkeliaran di sekitarnya. Ada beberapa rusa yang berlindung di balik pepohonan. Pulau ini tampak benar-benar alami dan terawat. Mungkin karena semua yang datang cuma dari satu pintu dan selalu diawasi oleh pemandu dari depan dan belakang. Sehingga semua turis tertib dalam penjelajahannya.

[caption id="attachment_1123" align="aligncenter" width="960"] bekas sarang Komodo yang kami temukan, foto: traveltoday[/caption]

Dua jam hampir berlalu, saya tetap fokus mencari dan melihat gerakan semak dan pepohonan di dalam hutan. Namun yang terlihat hanya gerakan pohon-pohon yang diakibatkan oleh rusa dan hewan-hewan lainnya. Sementara hujan mulai lebat. Semua peserta tampak mulai kecewa. Jauh-jauh datang kemari tidak bisa melihat dan bertemu komodo di habitatnya. Tentu saja kecewa. Namun sebelum perhentian terakhir, semangat tetap belum runtuh. Walau hujan mulai menggemuruh.

Dan benar saja... di ujung penjelajahan kami. Pemandu kami memberi tahu kalau ada komodo yang berada di dekat rumah pawangnya. Kami berlarian ke sana di bawah guyuran hujan. Berebutan mendekat. Tampak komodo yang sangat besar dengan panjang lebih dari 3 meter, tampak sudah tua dan malas bergerak. Matanya melihat kesana kemari dengan lidah menjulur-julur bercabang dua. Saya takut-takut mendekat. Namun semua peserta bule justru berebutan foto di dekat komodo tersebut.

[caption id="attachment_1124" align="aligncenter" width="960"] Zahrudin Haris sedang berfoto dengan Komodo, foto: traveltoday[/caption]

Beberapa pawang komodo mengingatkan agar jangan terlalu dekat dan jangan terlalu berisik agar komodo tersebut tidak terganggu. Sambil meminta pawang komodo teman perjalanan tadi  untuk memoto saya, saya memandangi komodo ini dengan perasaan luar biasa.

Selama ini hanya bisa melihat gambar dan video komodo di internet dan di mata uang rupiah, namun saat ini sungguh berada di depan mata. Saya terus menerus melihat dengan takjub sekaligus sangat bangga. Bangga karena hewan besar serupa naga ini tinggal dan berkembang biak di pulau yang berada di wilayah Indonesia. Bayangkan kalau berada di Afrika, berapa besar biaya yang harus saya keluarkan untuk sekadar melihatnya. Sama seperti teman-teman seperjalanan saya dari Eropa ini.

Setelah puas, kami diajak oleh pemandu untuk melihat-lihat kios suvenir khas Pulau Komodo. Mulai dari patung-patung komodo yang berukuran kecil hingga besar serta kain tenun khas Flores yang sangat terkenal keindahannya. Juga baju-baju kaos bermotif komodo. Setelah membeli beberapa suvenir untuk oleh-oleh, kami beristirahat di warung kopi yang banyak tersedia. Menyeruput teh hangat beserta pisang goreng di pulau yang ada di mimpi saya ketika kecil. Perasaan saya bungah.

Menjelajah Padang Savanna di Pulau Rinca

Hujan sudah mulai reda, kami pun segera kembali ke kapal. Walau pasir putih dan pantai yang landai di Pulau komodo tampak menggoda. Namun perjalanan belum usai. Kami harus melanjutkan ke pulau tetangganya yaitu Pulau Rinca.

Pulau ini berjarak kurang lebih 100 meter dari pulau Komodo. Namun ketika saya tanya pemandu saya. Komodo di Pulau Komodo tidak bisa menyeberang ke Pulau Rinca. Begitu juga sebaliknya. Menurut ceritanya, komodo di Pulau Rinca tampak lebih kecil dan lebih gesit. Karena pulau Rinca lebih berbukit-bukit dan lebih banyak padang rumput daripada hutan. Sehingga makanannya sedikit berkurang. Saya penasaran ingin membuktikannya.

Tidak berapa lama Pulau Rinca sudah tampak di depan mata. Dermaga pulau Rinca tampak lebih kecil. Sudah banyak kapal yang merapat. Kami harus menunggu sebentar untuk mendapatkan celah antrean agar kapal bisa melepas jangkar. Setelah kapal sandar. Kami tertib mengantre turun. Saya masih diselimuti rasa penasaran ingin melihat kehidupan liar komodo yang sesungguhnya di alam bebas. Bukan di halaman rumah pawangnya. Dan ingin melihat berekor-ekor, bukan hanya satu ekor.

[caption id="attachment_1125" align="aligncenter" width="960"] kapal sedang antre di pesisir Pulau Rinca, foto: traveltoday[/caption]

Kedatangan kami disambut oleh banyak monyet kecil yang bergelantungan di pohon-pohon sekitar dermaga. Monyet-monyet tersebut tampak akrab dengan para turis yang datang. Mereka bermain di sekitar kami, namun susah untuk dipegang. Mereka berlompatan menjulur-julurkan lidah seakan meledek dan berkata lihat boleh pegang jangan. Hehehe.

Kami menyusuri jalan setapak yang licin dan berlumpur karena habis hujan. Sekitar 500 meter dari dermaga, pemandu kami kemudian mendaftarkan diri dan membayar biaya masuk. Saya melihat banyak perbedaan pulau ini dengan Pulau Komodo. Terdapat lapangan yang cukup luas dan juga bekas rawa-rawa yang sudah dipangkas. Tidak ada pantai pasir putih ataupun tempat bersantai di pinggir pantai seperti Pulau Komodo. Di sepanjang bibir pantai pulau ini justru terdapat hutan bakau dan rawa-rawa yang menurut pemandu kadang-kadang terlihat buaya berenang.

Kami mendengarkan penjelasan dari pemandu dan pawang Komodo yang akan mendampingi perjalanan kami. Pulau Rinca terletak di sebelah barat Pulau Flores, yang dipisahkan oleh selat Molo. Pulau ini juga merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia Unesco karena merupakan kawasan Taman Nasional Komodo bersama dengan Pulau Komodo, Pulau Padar, dan Gili Motang.

Penjelajahan kami di Pulau Rinca dimulai. Barulah berjalan beberapa puluh meter, kami melihat seekor komodo yang berada di halaman rumah sedang berjalan diikuti oleh beberapa orang turis asing. Komodo ini juga tampak tua dan sudah tidak terlalu gesit. Mirip dengan yangkami temui di Pulau Komodo. Menurut pawangnya Komodo ini memang selalu berada di dekat rumah, karena sudah tidak pandai mencari makan dan bersaing dengan komodo-komodo lainnya. Jadi makanannya selalu disiapkan oleh pawangnya.

Setelah melihat sebentar, kami melanjutkan perjalanan. Dan tidak berapa lama, kami mendengar teriakan seseorang. Kami berlarian menghampiri. Dan tampaklah komodo muda yang sangat segar berada di tengah semak belukar. Komodo ini tampak gesit dan berbahaya. Kepalanya bergerak pelan ke kiri ke kanan seakan-akan waspada terhadap setiap ancaman. Matanya tampak memandang kami dengan ganas. Lidahnya menjulur-julur tanpa henti. Ekornya bergerak-gerak memapas tumbuhan yang ada di belakangnya.

Kami memandangnya dari jarak puluhan meter. Kami tak diperbolehkan mendekat oleh pawang. Berbahaya. Saya sedikit takut-takut namun takjub. Keinginan saya tadi menjadi nyata. Rasa penasaran saya terpenuhi. Beberapa kali melihat buaya di penangkaran namun jadi tidak berarti begitu melihat komodo ini. Tampak besar, gagah, ganas dan berbahaya. Komodo itu berjalan pelan menjauhi kami, lalu kami pun melanjutkan penjelajahan.

Kami menemukan seekor komodo lagi tak lama berselang. Lebih besar namun tidak lebih ganas dari yang sebelumnya. Saya mengabadikan setiap momen pertemuan dengan hewan-hewan raksasa ini. Setelah puas kami pun melanjutkan perjalanan.

[caption id="attachment_1127" align="aligncenter" width="960"] Komodo-Komodo yang dijumpai di Pulau Rinca, foto: traveltoday[/caption]

Makin lama kami melakukan penjelajahan, makin terlihat perbedaan antara Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Di pulau ini tampak banyak padang savanna yang sangat lapang dan indah untuk berfoto. Kalau di Pulau Komodo semua hutan lebat, kami tidak bertemu padang savanna sama sekali. Makin ke atas kami mendaki, makin indah pemandangan yang ada di pulau ini.  Benar kata pemandu kami tadi, jika ingin mendapatkan foto-foto yang indah dengan pemandangan savanna yang luas, serta hamparan laut biru dan pulau-pulau hijau di bawah sana, maka datanglah ke Pulau Rinca.

Kamipun tiba di atas Bukit Ora yang berketinggian 650 meter dari permukaan laut. Saya melihat pemandangan yang menakjubkan. Bukit ini merupakan padang savanna yang sangat luas yang membuat mata bebas memandang ke mana saja. Terlihat Pulau Komodo dan beberapa pulau lainnya. Juga hamparan laut yang luas serta beberapa kapal hilir mudik mengangkut turis yang berwisata. Kami mengabadikan semuanya di dalam kamera. Saya makin cinta alam Indonesia.

[caption id="attachment_1126" align="aligncenter" width="960"] Zahrudin Haris sedang berfoto di Bukit Ora, foto: traveltoday[/caption]

Bersantai di Pantai Pulau Kelor

Kapal berjalan perlahan memecah lautan yang tenang. Hujan telah benar-benar reda. Matahari sudah menampakkan diri. Kami menikmati makan siang dengan suka cita sambil bersenda gurau. Perjalanan dengan kapal empat hari benar-benar sudah mengakrabkan kami. Empat hari lalu kami tidak saling mengenal. Namun kini kami layaknya teman yang sudah kenal lama. Alam telah menyatukan kami layaknya satu keluarga.

Perjalanan menuju Pulau Kelor kami tempuh sekitar dua jam. Pemandu kami menunjuk satu pulau kecil yang tampak sudah dipenuhi beberapa kapal yang bersandar. Tidak ada dermaga di sana. Hanya hamparan pasir putih sepanjang pantai serta air laut yang sangat jernih berwarna hijau toska. Dasar laut  tampak jelas terlihat. Membuat kami ingin segera menyatu dan berenang di dalamnya.

[caption id="attachment_1128" align="aligncenter" width="693"] keindahan Pulau Kelor,foto: Travelling Story[/caption]

Setelah kapal melepas jangkar dan mendapatkan tempat untuk bersandar. Semua peserta tur tampak dengan santai satu persatu lompat dari kapal dan menceburkan diri. Saya memilih melompat dari sebelah kanan, karena langsung menuju laut yang dangkal. Sedangkan sebelah kiri tampak lebih dalam dan agak berombak. Para peserta turis asing memilih untuk turun di sebelah kiri dan langsung berenang menuju pantai yang sangat tenang.

Kami pun berenang bersama di air laut yang sangat jernih ini. Dasar laut yang berpasir putih layaknya tepung terasa lembut di kaki. Tidak ada karang di bawahnya. Menyenangkan. Kami berenang bersama di alam bebas,  layaknya anak kecil yang bermain di kolam renang anak-anak. Kami saling menyatu, saling bercerita, bersenda-gurau, mengobrol sana-sini, kemudian menyelam, berenang lagi,  mendekat dan menyatu lagi, saling bercerita kembali. Betapa santainya dunia. Sungguh... nikmat mana lagi yang akan kami temui?

Bersambung...

London, Tempat Sepakbola Diagungkan

Liga Primer Inggris Musim 2016/17 memang jadi musimnya para penggemar klub yang punya slogan Keep The Blues Flag Flying High. Saat ini Chelsea berpeluang besar untuk merengkuh gelar kelima liga.

Tetapi, satu hal yang menyita perhatian saya saat melihat klasemen sementara liga paling kompetitif di muka bumi ini adalah dominasi 3 tim kota London yang menempati tempat teratas untuk saat ini.

Selain Chelsea, Tottenham Hotspurs dan Arsenal masih ada 2 lagi tim kota London yang ikut bersaing. West Ham United dan Crystal Palace. London sendiri punya 18 tim profesional dan 80 tim dari liga amatir, bayangkan bagaimana kota ini menggilai sepakbola.

Buat saya dan penggemar sepakbola lainnya di Indonesia, kota yang terkenal dengan sungai Thames-nya ini menjadi sebuah destinasi impian yang harus dikunjungi. Terutama stadion-stadion yang ada di kota itu.

Saya mencatat setidaknya ada 15 stadion yang punya kapasitas lebih dari 10.000 kursi. Tentu saja ada sejumlah stadion kecil untuk tim-tim dari distrik yang tersebar di London.

Maka tepat rasanya apabila London adalah surganya penjelajah sejarah sepakbola.

Saya akan mengajak anda untuk mengintip beberapa stadion yang harus dikunjungi apabila datang ke kota yang punya populasi terbesar di benua Eropa. Dan ketika bicara sejarah tentu kita harus mengikuti usia stadion tersebut.

Mari kita mulai dengan yang termuda dari yang saya anjurkan!

Olympic Stadium (London Stadium)

[caption id="attachment_1109" align="aligncenter" width="698"] foto: FabriTec Structures[/caption]

Stadion yang menjadi kebanggaan para pendukung West Ham United ini dibangun tahun 2008 dan dibuka untuk umum di tahun 2012. Terletak di distrik Strantford yang berada di sebelah timur kota London. Di tahun yang sama setelah dibuka stadion ini langsung digunakan untuk event sebesar London Olympic dan Paralympic 2012. Ketika menjelajah sejarah seisi stadion yang punya kapasitas 60.045 kursi ini anda juga bisa menikmati keindahan daerah yang lebih dikenal sebagai daerah industri ini (jangan samakan daerah industri di London dengan yang ada di Indonesia).

Arsitektur gereja St.John the Evangelist tak kalah indahnya dengan bangunan-bangunan gereja yang ada di Italia dan Spanyol. Dan sempatkan juga untuk mampir ke Arcelor Mital Orbit, menara observasi dan seni pahat yang menjulang ke atas dengan tinggi 374 kaki. Tempat yang bagus untuk tren berfoto jaman sekarang.

Emirates Stadium

[caption id="attachment_1110" align="aligncenter" width="714"] foto: Arsenal.com[/caption]

Rumah bagi Alexis Sanchez dan kawan kawan ini ada di daftar kedua stadion yang harus kalian kunjungi. Mulai dibangun di tahun 2004 dan memakan waktu 2 tahun sebelum memainkan laga pertama Arsenal menggantikan Highbury Park.

Stadion yang terletak di Holloway ini menjadi stadion multifungsi terbesar ketiga di Inggris setelah Wembley dan Old Trafford dengan kapasitas 60.432 kursi.

Jangan kaget apabila anda menemui berbagai orang dari mancanegara di Holloway, karena ini memang daerah multikultural. Selain itu anda juga sangat mungkin untuk menjumpai orang terkenal di sini, mengingat tempat ini menjadi peristirahatan bagi sejumlah pelaku seni televisi dan film serta penulis dan jurnalis.

Jangan lupa saat memulai tur stadion untuk mengunjungi musium Arsenal dimana para Gooners akan dimanjakan dengan sejarah tim dari videografi juga sejumlah trofi dan barang-barang peninggalan legenda tim asuhan Arsene Wenger saat ini.

Wembley Stadium (New Wembley)

[caption id="attachment_1111" align="aligncenter" width="692"] foto: Sports Illustrated[/caption]

Stadion yang satu ini jelas tidak perlu banyak diperkenalkan. Popularitasnya berbicara sendiri. Stadion yang menjadi markas utama Tim Nasional Sepakbola Inggris ini merupakan stadion terbesar kedua di Eropa dan terbesar di Inggris.

Stadion Wembley berkapasitas 90 ribu tempat duduk. Bayangkan jika anda berada di dalamnya dan merasakan kemegahannya.

Di daerah Wembley anda akan menjumpai Central Mosque Wembley yang telah didirikan sejak tahun 1985 menggantikan gereja St.Andrew Prebysterian yang kosong selama 15 tahun. Diversifikasi menjadi hal yang dijunjung tinggi di sini. Sebelum pergi dari stadion yang disebut juga sebagai Rumah Sepakbola ini sempatkan juga untuk melihat trofi Piala Dunia 1966 yang dimenangkan oleh Inggris melalui Bobby Charlton dan Geoff Hurst saat itu.

Selhurst Park

[caption id="attachment_1112" align="aligncenter" width="687"] foto: Premier Football Books[/caption]

Anda pasti familiar dengan sosok Sam Allardyce. Ya, pelatih yang paling cepat mengakhiri jabatannya sebagai pembesut timnas Inggris akibat skandal suap.

Namun ia telah kembali dan kini melatih Crystal Palace salah satu kontestan Premier League asal London yang bermarkas di Selhurst Park. Stadion yang mulai dibuka pada tahun 1924 ini punya kapasitas 25.456 kursi dan telah menjadi kandang bagi The Eagles sejak awal dibuka.

Crystal Palace memang hanya tim semenjana, namun sejarah tim yang sudah berusia 111 tahun ini tentu tidak boleh dilewatkan oleh anda para penggila sepakbola. Apalagi para penggila kopi akan dimanjakan di daerah Selatan Norwood karena ada belasan coffeshop yang tersebar di sini.

White Hart Lane

[caption id="attachment_1113" align="aligncenter" width="686"] foto: www.telegraph.co.uk[/caption]

Sejak ditangani oleh Mauricio Pocchetino, Tottenham Hotspurs telah menjadi penantang serius gelar Premier League dari musim ke musim. Pemilik 2 gelar kasta tertinggi sepakbola Inggris di tahun 1950/51 dan 1960/61 sudah melakoni 12 pertandingan di hadapan pendukungnya sendiri di White Hart lane dan belum pernah kalah di musim ini.

Stadion yang punya kapasitas 36.285 dan dibuka sejak tahun 1899 ini memberikan tuah tersendiri bagi Harry Kane dan koleganya. Oleh karena itu ini menjadi salah destinasi stadion yang harus dikunjungi tentunya.

Terletak di Tottenham di sebelah utara London, tempat ini menghadirkan sejumlah tempat bersejarah yang bisa kalian saksikan tentunya selain stadion itu sendiri. Mulai dari All Hallows Church yang berusia lebih dari 700 tahun, lalu Broadwater Farm, St.Anne's Church, Broke Street Chapel hingga Bruce Castle yang dibalut berbagai nilai historis bisa membuat anda berlama-lama di Tottenham.

Sebelum beranjak ke stadion berikutnya, sempatkan juga untuk mencicipi keju dari Wilder Cheese yang akan menggoyang lidah anda.

Stamford Bridge

[caption id="attachment_1115" align="aligncenter" width="695"] foto: The Independent[/caption]

Seperti yang saya katakan di awal, bahwa musim ini bisa menjadi musimnya Chelsea.

Saya memandu siaran langsung pertandingan Liga Primer antara Chelsea dan Arsenal. Anak-anak buah Antonio Conte berhasil membalas kekalahan mereka di paruh musim pertama dan secara tidak langsung menjauhkan Arsenal dari peta kekuatan perebutan gelar. Dan itu mereka lakukan di Stamford Bridge. Stadion ini bersejarah!

Stamford Bridge tahun 1876 dan dibuka satu tahun kemudian dengan kapasitas 41.490 kursi. Ia telah menjadi saksi atas 5 gelar kompetisi teratas Liga Inggris dari tim yang saat ini dimiliki oleh Roman Abramovich.

Fulham yang menjadi nama daerah tempat Stamford Bridge didirikan juga punya banyak peninggalan arsitektur bersejarah yang dilestarikan, salah satunya Fulham Pottery. Selain itu di area ini bertebar restoran-restoran yang menyajikan makanan yang sayang untuk dilewatkan seperti Hally's, Claude's Kitchen dan Harwood Arms dan lainnya.

Buat yang ingin berwisata malam maka ini menjadi tempat yang pas. Sejumlah Bar dan Pub siap memanjakan anda. Cobalah datang ke White Horse atau Malt House dan Amuse Bouche. Alkohol di udara yang dingin memang nikmat.

Itulah sedikit gambaran dari 6 stadion yang bisa dikunjungi di kota London. Bagaimana? Bukankah ini surga sepakbola? Jika memang Chelsea bisa juara atau Arsenal dan Tottenham yang punya kesempatan maka alangkah indahnya jika bisa menyaksikan langsung kehebatan tim-tim ini langsung mengangkat trofi di depan mata kita. Tentunya sambil menjelajah stadion dan berwisata di kota London.

Stewart Henry

Friday, February 3, 2017

Harapan Tahun Baru di Pulau Harapan (Bagian Pertama)

Tahun baru di Pulau Harapan merupakan pengalaman yang tak terlupakan bagi saya. Pengalaman yang menggelikan, menyenangkan, maupun menyedihkan saya rasakan saat itu.

Awal kisahnya dimulai dari sebuah rumah kontrakan. Ketika itu saya masih bertempat tinggal di Tebet bersama teman-teman saya. Mereka adalah Stewart sang presenter bola, Christoper sang peracik minuman, Stevie yang setengah mafia yang dibalut tato di sekujur tubuhnya, Andy sang montir, Adrian sang fotografer, Wendy sang juragan kuliner, dan saya sang desainer grafis.

[caption id="attachment_1100" align="aligncenter" width="640"] dari kiri: christoper, andy, adrian, demy, okta, stewart, stevie, andhika[/caption]

Menjelang akhir tahun kami masih tidak ada rencana untuk merayakan tahun baru di mana dan bagaimana. Bahkan, kami tidak berpikir bakal merayakan tahun baru.

Suatu malam seperti malam biasanya kami duduk bersama di ruang tamu dan bermain kartu capsa hingga larut malam. Di tengah permainan terdengar teriakan dari pacar Stevie yang bernama Oktavia, "Tahun baru ke Pulau Harapan yuk?" Sontak permainan kartu langsung berhenti menjadi pembahasan rencana tahun baru.

"Berapa harganya?" tanya saya.

"Sekitar 450 ribu,” sahut Okta. Berhubung saya tidak pernah ke sana, maka saya bertanya lebih lanjut kepada Okta, "Tinggalnya di mana? Hotel?"

Okta pun menjawab, "nanti kita tinggal bareng di satu cottage."

"Wahhh mewah dan murah dong," sahut saya. Dan Okta pun menjelaskan harga tersebut sudah termasuk makan sebanyak 3 kali dan transportasi. Kami pun tertarik dengan rencana yang diajukan Okta.

Sembari menunggu Okta yang sedang menelpon penjual paket tur tersebut saya googling apa dan bagaimana Pulau Harapan itu. Saya ketik "cottage pulau harapan" di kolom pencarian google. Muncul lah cottage-cottage mewah yang sekarang saya baru tahu kalau itu berada di Pulau Macan.

Hari-hari berlalu, tak terasa sudah tanggal 31 Desember, kami bangun subuh untuk antre mandi. Maklum kamar mandi kami cuma satu. Saya apes mendapat giliran mandi setelah Stevie karena kebetulan dia mandi sekalian buang air besar. Ketika giliran mandi saya tiba, keadaan memaksa saya untuk menghirup aroma busuk binatang-binatang yang semalam dia konsumsi. Apes.

Kami berangkat ke Muara Angke menggunakan dua unit taksi. Perjalanan dimulai dengan jalan yang lapang. Sesampai di daerah Muara Angketerjadi kemacetan yang sangat panjang yang memaksa kami untuk berjalan kaki sepanjang kurang lebih 300 meter menuju lokasi pemberangkatan.

[caption id="attachment_1101" align="aligncenter" width="689"] gerbang muara angke, foto: Indoplaces.com[/caption]

Saya terkejut karena ternyata pelabuhan tersebut sekaligus pasar ikan dan semalam terjadi banjir di sana. Kubangan-kubangan banjir dan bau amis ikan bercampur menjadi satu. Kubangan tersebut setinggi betis saya. Baunya tidak bisa saya ungkapkan. Mungkin kalau anda menyelupkan singkong ke dalam air kubangan itu singkongnya langsung berubah jadi tape. Damn! Air kubangan itu pun bercipratan hingga ke kaos saya.

[caption id="attachment_1102" align="aligncenter" width="676"] pedagang ikan di muara angke, foto: TripAdvisor[/caption]

Saya ngedumel ke Stevie, "Pi, muambu, Pi. Kebacut ambune koyok sapiteng!" yang artinya, "Pi, bau, keterlaluan seperti septic tank."

Stevie pun menjawab enteng, "Gakpopo, kene lanang kudu kuat.” Artinya, tidak apa apa kita cowo harus kuat. Sialan. Hahaha. Tapi ternyata kata-kata Stevie membuat saya bersemangat lagi.

Tibalah di tempat keberangkatan dan saya melihat kapal yang akan kami gunakan untuk ke Pulau Harapan. Kapalnya ternyata sehari-hari difungsikan untuk mengangkut sayur-mayur dan binatang-binatang entah ayam, ikan, atau dinosaurus. Dan kami harus melompati beberapa perahu untuk sampai ke perahu kami. Hebatnya nenek-nenek pun harus melalui proses itu.

[caption id="attachment_1103" align="aligncenter" width="684"] proses menuju kapal, foto: m.tempo.co[/caption]

Saya lalu melompati satu per satu perahu tersebut dengan keterampilan skill ninja saya. Dan tiba di kapal saya tidak bisa melihat bentuk kapalnya karena terlalu banyak manusia di kapal itu. Serius… banyak sekali manusianya hingga gerak pun susah. Saya jadi malas menghitungnya.

[caption id="attachment_1104" align="aligncenter" width="800"] para manusia sedang melompat kapal satu ke kapal lainnya, foto: Okezone News[/caption]

Terus saya masuk ke bagian bawah kapal. Dan di bawah kapal lebih banyak orang lagi. Rontok hati saya melihat kondisi kapal seperti ini dan harus berada tiga jam dalam keadaan seperti ini.

[caption id="attachment_1105" align="aligncenter" width="710"] kondisi di dalam kapal (bayangkan anda di situ), foto: Kompas Print[/caption]

Kapal pun berangkat. Kami duduk di bagian belakang kapal beralaskan kardus air mineral. Saya duduk termenung berharap untuk segera sampai di Pulau Harapan.

Bersambung.....

Andhika Swarna Limantara, traveltoday

7 Destinasi Paling Menarik di Barcelona

Barcelona telah menjadi salah satu kota yang ingin dikunjungi oleh banyak orang. Kota yang menjadi salah satu cagar budaya dunia ini adalah magnet bagi mereka yang mencintai perjalanan dan mencari pengalaman baru.

Magnet terbesar Barcelona tentu saja tim sepakbola mereka yang termasyur itu. FC Barcelona telah menjelma menjadi salah satu aset berharga bagi kota. Tetapi, tak pernah cukup bagi siapapun yang datang ke Barcelona hanya untuk sekadar meneguk nikmat sepakbola. Barcelona punya sejumlah destinasi menarik yang akan memuaskan siapa saja yang singgah di sana.

Ini 7 destinasi yang paling menarik menurut Travel Today yang wajib anda kunjungi jika anda berlibur ke Barcelona:

La Sagrada Familia

[caption id="attachment_1091" align="aligncenter" width="750"] foto: ArchDaily[/caption]

Gereja La Sagrada Familia adalah daya tarik wisata nomor satu di Barcelona. Bangunan luar biasa ini didirikan pada tahun 1882 dan terus dibangun hingga saat ini. Hanya 8 menara dari 18 menara yang saat ini telah selesai. Bangunan yang sangat megah dan indah ini dirancang oleh Antoni Gaudi, seorang arsitek yang sangat terkenal di zamannya. Diharapkan Basilika La Sagrada Familia akan selesai dibangun pada tahun 2016, bertepatan dengan peringatan 100 tahun kematian Gaudi yang meninggal pada tahun 1926 lalu.

La Sagrada Familia adalah wujud dari sebuah komitmen, pengabdian, dan dedikasi dari seorang Gaudi. Basilika ini menarik wisatawan mancanegara lebih dari 3 juta orang setiap tahunnya.

Casa Mila

[caption id="attachment_1092" align="aligncenter" width="936"] foto: TravelDigg[/caption]

Casa Mila yang juga dikenal dengan nama La Pedrera ini adalah sebuah bangunan yang sangat eksentrik yang juga dirancang oleh Antoni Gaudi. Bangunan bersejarah ini mulai dibangun sejak tahun 1906 dan selesai di tahun 1912. Bangunan yang berbentuk meliuk-liuk dan sangat unik ini dianggap sebagai karya yang paling menarik dari seorang Antoni Gaudi.

Jika anda masuk ke dalam, maka anda akan melihat banyak karya Gaudi lainnya. Di Casa Mila Anda dapat berwisata, melihat pameran dan menikmati konser musim panas di teras bagian atapnya. Atau datanglah ke lantai pertama, dimana terdapat Casa Mila Cafe yang menyuguhkan berbagai jenis minuman termasuk kopi khas Spanyol yang terkenal akan kenikmatannya. Bangunan ini menjadi salah satu bangunan yang wajib anda kunjungi ketika liburan ke Barcelona.

Park Guell

[caption id="attachment_1090" align="aligncenter" width="800"] foto: fattiretours[/caption]

Taman Guell ini merupakan taman yang sangat indah yang juga dirancang oleh Antoni Gaudi. Taman yang menjadi salah satu Situs Warisan Dunia Unesco ini terletak di atas bukit Carmel. Untuk mencapainya kita harus sedikit berjalan kaki. Taman ini sangat luas. Perlu lebih dari setengah hari untuk menjelajahinya.

Park Guell dirancang oleh Gaudi untuk menjadi perumahan dan taman yang sangat ekslusif pada zamannya. Namun karena kurangnya peminat akan perumahan ini, maka pada tahun 1923, taman ini diserahkan kepada dewan kota. Dan sejak itu taman ini terbuka untuk umum dan menjadi salah satu ikon pariwisata di kota Barcelona.

Poble Village Espanyol

[caption id="attachment_1093" align="aligncenter" width="687"] foto: across-spain[/caption]

Desa wisata yang sangat indah ini dirancang oleh salah seorang arsitek terkenal Spanyol lainnya bernama Joseph Puigi Cadafalch. Desa ini dibangun pada tahun 1929 sebagai percobaan arsitektur untuk sebuah desa ideal di Spanyol. Pada tahun tersebut Spanyol mengadakan pameran terbesar yaitu World Fair dan Pameran Universal di Barcelona.

Desa ini dirancang sebagai percontohan sebuah desa yang ideal  yang mewakili arsitektur Spanyol yang sangat terkenal. Namun setelah pameran tersebut selesai, atas permintaan banyak warga, desa ini tidak turut dibongkar. Dan sekarang desa ini diisi oleh banyak cafe, klab malam, restoran, dan juga toko-toko kerajinan tangan khas Catalan.

Las Ramblas

[caption id="attachment_1094" align="aligncenter" width="686"] foto: Sunshine[/caption]

Las Ramblas merupakan boulevard paling terkenal di Barcelona. Jalan pedestrian sepanjang 1,2 kilometer ini membentang dari mulai Barri Ghotic menuju El Raval di pusat kota Barcelona. Las Ramblas sangat terkenal di kalangan warga lokal dan wisatawan mancanegara.

Sepanjang jalan di Las Ramblas terdapat toko-toko kecil yang menjual makanan, barang-barang antik, souvenir, dan produk lokal. Ditambah lagi dengan banyaknya penampilan para seniman jalanan yang sangat menarik. Mereka tampil dengan kostum berwarna-warni dan memberikan hiburan kepada wisatawan yang berlalu-lalang memenuhi jalan ini. Berkunjunglah di sore hari dan berjalanlah pelan menikmati semua keindahan pusat Catalan ini.

Plaza De Catalunya

[caption id="attachment_1095" align="aligncenter" width="689"] foto: A View On Cities[/caption]

Dari Las Ramblas berjalanlah terus dan anda akan sampai di Plaza de Catalunya. Plaza de Catalunya atau yang juga terkenal dengan nama Catalunya Square adalah sebuah lapangan luas yang merupakan pusat kota Barcelona.

Plaza de Catalunya merupakan pertemuan dari beberapa jalan utama di Barcelona. Seperti Rambla de la Catalunya, Portal del I’Angel atau La Rambla, dan Passeig de la gracia.

Di lapangan seluas lebih kurang lima hektar ini, berdiri berbagai macam patung, monumen dan air mancur yang sangat terkenal yaitu Catalunya a Francesc Marcia. Berfotolah dengan latar belakang gedung-gedung tua yang cantik, air mancur yang sangat menarik dan tentu saja ribuan burung merpati yang akan membuat foto anda semakin indah.

Museu Nacional D’Art Catalunya

[caption id="attachment_1096" align="aligncenter" width="685"] foto: Barcelona Turisme[/caption]

Museu Nacional d’art Catalunya (MNAC) adalah Museum Seni Catalan yang terletak di bukit Montjuic. Museum ini berdekatan dengan Kastil Montjuic yang juga sangat terkenal dan menjadi pusat kunjungan wisatawan.

MNAC pertama kali dibuka pada tahun 1934. Ada 290 ribu koleksi yang disimpan di museum ini. Yang sangat terkenal adalah lukisan-lukisan Gereja Katolik Roma yang dibuat pada abad ke-19 sampai dengan abad ke-20.

Museum ini juga menyimpan koleksi lukisan gothic dari abad ke-13. Di dalam museum ini juga terdapat perpustakaan dan pusat pendidikan. Jadi buat traveller yang ingin tahu sejarah peradaban Barcelona, Catalan, dan juga Spanyol silakan berkunjung ke museum ini. Museum ini buka setiap hari Selasa sampai Minggu, mulai pukul 10.00 pagi sampai dengan pukul 08.00 malam waktu setempat.

Setelah mengunjungi tempat-tempat tersebut di atas, jangan lupa untuk menikmati suasana pantai di Barcelona. Sambil menyelonjorkan kaki di kafe dan restoran yang banyak terdapat di sepanjang pantai, isilah perut anda dengan berbagai macam makanan khas Spanyol yang nikmat. Atau cucilah mata anda dengan melihat keindahan pemandangan sekitar pantai dan tentu saja wanita-wanita Barcelona yang sangat terkenal akan kecantikannya.

Itulah rekomendasi Travel Today yang pernah berkunjung ke sana dan berharap suatu saat bisa kembali menikmati eksotisme Barcelona. Bagaimana dengan Anda? Jadi, tunggu apa lagi?

Zahrudin Haris, traveltoday

Thursday, February 2, 2017

5 Hari 4 Malam di Perairan Nusa Tenggara (Bagian Kedua)

lanjutan dari bagian pertama

Berenang Bersama Lumba-Lumba Dan Pari Manta Lalu Rebah Di Pasir Pink Beach

Setelah meninggalkan Pulau Satonda, perjalanan kami lanjutkan menuju Manta Point dan Gili Laba. Inilah perjalanan yang sangat panjang dalam tur ini. Lebih kurang 16 jam kapal yang kami tumpangi harus memecah gelombang yang sangat tinggi. Makan malam disajikan dengan kondisi kapal yang bergoyang ke kanan dan ke kiri. Sebagian  peserta tur memilih tetap tiduran daripada menyentuh makan malam yang telah disiapkan.

Kondisi saya pun tidak sama baiknya. Walau saya pernah berlayar dengan kapal Pelni selama tujuh hari enam malam dari Jakarta menuju Sorong, Papua. Tapi karena kapal ini lebih kecil atau ombaknya yang lebih besar, guncangannya sangat berasa. Saya memilih untuk beristirahat menghabiskan malam di kamar sambil bermain games dan sesekali mencoba membaca buku yang saya bawa.

Keesokan paginya, kami telah memasuki perairan Nusa Tenggara Timur. Badai telah terlewati. Kapal melaju pelan memecah ombak yang tidak terlalu besar seperti semalam.  Dan betapa terkejutnya ketika tidak jauh dari kapal yang kami tumpangi, terlihat beberapa lumba-lumba berlompatan berenang mengikuti gerak kapal kami. Sesekali mereka mendekat menampakkan diri, kemudian menjauh menghilang di kedalaman lautan.

[caption id="attachment_1078" align="aligncenter" width="960"] suasana matahari terbit dari dalam kapal, foto: travel today[/caption]

Namun bayanganya masih nampak oleh kami. Beberapa peserta tur terjun ke laut berniat  mengejar, tapi lumba-lumba itu menjauh dan mendekat seperti mengajak bermain bersama. Saya yang tidak terlalu berani berenang di lautan yang luas kecuali pakai pelampung, hanya bisa menikmati pemandangan ini dari anjungan kapal dengan takjub. Kapan lagi kita bisa melihat secara langsung lumba-lumba berenang di lautan luas.

Tiba-tiba kami dikejutkan oleh teriakan pemandu kami yang melihat ikan pari manta  berenang di sekitar kapal. Ternyata kami sudah tiba di Manta Point. Saya yang masih berdiri di anjungan kapal, melihat ke laut dan memperhatikan gerak beberapa ekor pari manta yang berenang bebas. Tanpa memikirkan rasa takut, saya langsung mengambil jaket pengaman dan ikut terjun ke laut menyusul peserta asing yang sudah berlompatan.

[caption id="attachment_1079" align="aligncenter" width="1000"] ikan pari berenang di manta point, foto: manta point komodo[/caption]

Bagian punggung  ikan pari tampak hitam dan kalau berbalik tampak bagian perutnya berwarna putih. Ikan itu sesekali berputar seakan berakrobatik di sekitar kami. Melihat secara langsung dan bisa berenang dekat pari manta tersebut sungguh luar biasa. Beberapa peserta tur yang jago berenang mengikuti pari manta lebih jauh dengan semangat membara. Bahkan ada juga yang berenang di bawahnya.

Ternyata bukan hanya saya, tapi juga buat mereka ini moment yang istimewa. Raut wajah sumringah penuh kegembiraan terlihat di semua wajah peserta tur. Mereka bercerita saling bersahutan menceritakan pengalaman masing-masing. Betapa senangnya mereka bisa berenang di dekat ikan Pari Manta yang tersohor kebesaran dan keindahannya. Melihat wajah-wajah bahagia peserta tur yang datang dari seluruh penjuru dunia  hanya untuk menikmati keindahan alam kita,  membuat saya bangga dan bersyukur sebagai orang Indonesia yang memiliki semuanya ini.

Mendaki Keindahan Gili Laba

Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan. Kami merapat di satu pulau yang tampak berbukit-bukit dan menghijau. Inilah Gili Laba. Sayang sekali di pinggiran pantai pasir putih yang sangat indah ini banyak sampah berserakan. Masih banyak traveller yang mengunjungi pulau ini namun membuang sampah sembarangan. Harusnya seorang traveller tidak sekadar menikmati keindahan alam tapi juga harus menjaga kebersihan alam tersebut agar selalu tampak indah. Pemandangan sampah plastik yang berserakan ini sangat mengganggu mata.  Sayang sekali..

Kami kemudian mendaki bukit yang tampak tidak terlalu tinggi. Namun ketika didaki membutuhkan tenaga yang ekstra. Kami harus berkali-kali berhenti untuk sekedar beristirahat dan menarik nafas mengisi paru-paru yang hampir kosong sambil menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya.

Sampai di puncak Gili Laba kami tertegun takjub. Dari tempat kami berdiri terlihat perbukitan hijau yang bertingkat-tingkat di pulau ini dan juga pulau-pulau di sekitarnya. Jika pandangan diarahkan ke bawah, terlihat pantai pasir putih yang memanjang mengelilingi pulau ini dan pulau-pulau di seberangnya. Kapal yang kami tumpangi dan beberapa kapal lainnya yang bersandar tampak terlihat kecil. Air laut berwarna hijau toska dan semakin ke tengah semakin biru. Semua peserta tampak termangu dan diam membisu menikmati keindahan ini. Setelah sesaat barulah kami disadarkan oleh teriakan pemandu, agar kami jangan lupa mengabadikan momen ini di dalam kamera dan handphone yang kami bawa. Kami bergantian saling berfoto bersama. Betapa kelelahan mendaki puncak bukit ini terbayar lunas dengan segala keindahannya.

[caption id="attachment_1080" align="aligncenter" width="780"] Zahrudin Haris sedang berfoto di Gili Laba, foto: travel today[/caption]

Setelah puas, kami turun dengan melalui jalur lain yang agak melingkar namun sedikit landai. Selama perjalanan turun semua peserta tetap sibuk berfoto dan sesekali berhenti menikmati pemandangan yang sangat menakjubkan ini. Saya telah pergi ke banyak negara dan mengelilingi separuh dunia, namun pemandangan di sini sungguh luar biasa.

Kami kembali ke kapal dengan tetap memperhatikan pulau-pulau kecil yang sangat indah ini. Kapal berjalan pelan seakan mengerti keinginan kami yang ingin berlama-lama menikmati semua keindahan ini. Perjalanan kami lanjutkan menuju Pink Beach. Pantai indah yang sangat terkenal karena pasirnya yang berwarna pink.

Merebahkan diri di Pink Beach

Setelah dua jam perjalanan, pemandu kami menunjuk satu pulau yang tampak di kejauhan. Disitulah pantai Pink Beach berada. Perlahan kapal kami mendekat dan pantai pink tersebut mulai terlihat. Karena kapal tidak bisa merapat, kami harus terjun ke air dan berenang menuju bibir pantai.

Menurut pemandu tempat ini sangat indah buat snorkeling. Kami memakai peralatan snorkeling yang telah disiapkan dan terjun ke laut. Terlihat banyak ikan berbagai jenis dengan warna-warna yang sangat indah. Saya tidak tahu namanya tapi tahu cara menikmati keindahannya. Sambil berenang pelan saya benar-benar memperhatikan setiap detail keindahan bawah laut ini. Terlihat koral-koral yang sangat cantik dengan berbagai bentuknya. Tumbuhan laut yang bergoyang lembut mengikuti ombak diatasnya. Sesekali terlihat bintang laut dan juga cumi-cumi serta berbagai bentuk ikan yang sangat beragam. Sungguh indah.

[caption id="attachment_1081" align="aligncenter" width="677"] pink beach, foto: AskBeach[/caption]

Tanpa terasa saya sudah tiba di bibir pantai yang berwarna pink. Saya mengambil sejumput pasir yang sangat halus ketika dipegang. Terlihat pasir putih yang bercampur dengan pecahan-pecahan koral yang berwarna merah yang tersapu ombak, sehingga ketika disatukan menjadi berwarna pink. Kami merebahkan diri dan berfoto bersama mengabadikan keindahan ini. Setelah itu kami kembali snorkeling berputar-putar di sekitar pantai. Ketika lelah kembali kembali tiduran di pantai. Berulang kali kami melakukan hal yang sama tanpa bosan. Kalau tidak dipanggil untuk kembali ke kapal, mungkin kami tidak akan pernah beranjak dari tempat yang sangat indah ini.

Menjelajah Kampung Komodo

Matahari perlahan turun di tepi langit sana. Langit berhias warna jingga. Kami menuju tempat melempar jangkar malam ini yaitu di tepi Pantai Gili Lawa atau yang biasa di sebut Kalong Island. Laut sangat tenang. Kapal memecahnya tanpa suara.

Waktu menunjukkan pukul lima sore ketika kapal kami melepas jangkar di dekat Gili Lawa. Pulau kecil yang tak berpenghuni ini berada di deretan kepulauan Komodo. Di kejauhan saya melihat Kampung Komodo dan penasaran ingin menjelajahinya. Kebetulan ada beberapa kapal yang merapat menawarkan souvenir khas Komodo berupa patung-patung komodo kecil dan gelang serta kalung mutiara.

Untuk mengakrabkan diri, saya mengajak mereka bercakap-cakap dan menawar beberapa barang.  Setelah merasa dekat,  saya meminta mereka mengantar saya menuju Kampung Komodo. Kebetulan mereka berdua tinggal di sana.

[caption id="attachment_1082" align="aligncenter" width="720"] Zahrudin Haris menggunakan transportasi menuju kampung komodo, foto: travel today[/caption]

Saya mengajak teman saya dan menaiki kapal kecil mereka yang dijalankan dengan mesin motor secara perlahan. Sambil berjalan menuju kampung, saya banyak bertanya tentang kehidupan penduduk kampung Pulau Komodo. Sebagian besar penduduk kampung berprofesi sebagai nelayan. Dan sebagian lagi bekerja di Pulau Komodo dan Pulau Rinca sebagai tour guide. Anak-anak mudanya di samping jualan suvenir juga bisa menjadi tour guide dadakan.

Setelah merapat kami diajak keliling Kampung Komodo. Kampung ini tidak terlalu besar, jarak dari ujung ke ujung sekitar 500 meter. Sementara jarak dari bibir pantai ke daratan yang dibuat rumah penduduk tidak sampai 100 meter. Karena di belakangnya terdiri dari perbukitan.  Sebagian rumah berada di darat dan sebagian lagi di atas laut dengan tiang-tiang kayu yang tinggi. Kami berjumpa dengan banyak anak kecil yang sedang bermain dan meminta mereka untuk berfoto bersama di gerbang yang bertuliskan “Selamat Datang di Kampung Komodo”.

Kemudian kami menyusuri jalan kecil yang berupa kayu dan bambu yang disusun membentuk jembatan yang sangat panjang. Kami bertegur sapa dengan banyak penghuni pulau ini. Terdapat beberapa warung yang menyajikan kebutuhan penduduk. Terlihat banyak orang yang menenteng ikan yang tampak sangat segar karena baru dibawa nelayan yang pulang melaut. Kemudian kami mencari sumbernya dan membeli beberapa ekor ikan untuk dibakar di atas kapal.

[caption id="attachment_1085" align="aligncenter" width="720"] Zahrudin Haris berfoto dengan penduduk kampung komodo, foto: travel today[/caption]

Setelah puas berkeliling, kami kembali diantar menuju kapal. Saya memberikan ikan kepada juru masak yang menyambut kami dengan suka cita. Dan memberikan tip dan nomor ponsel saya untuk pemandu kami yang sangat baik hati. Yang sampai saat ini tetap berhubungan baik dan saling memberi kabar.

Sambil menunggu ikan selesai dibakar untuk hidangan malam ini saya duduk di atas anjungan kapal dan menikmati senja yang perlahan mulai memudar. Saya memperhatikan pohon-pohon di Gili Lawa yang tampak menghitam dan terlihat berbeda. Ketika saya tanya pemandu, dia bilang semua pohon yang menghitam itu adalah kelelawar atau kalong yang sedang bergantungan. Saya memandanginya dengan takjub. Dan ketika langit biru beranjak kabur dan menghitam. Ketika senja telah masuk ke peraduan. Tiba-tiba saja semua kelelawar tersebut berterbangan. Puluhan bahkan mungkin ratusan ribu kelelawar terbang puluhan meter di atas kami membuat formasi yang sangat menakjubkan. Benar-benar membuat saya terpukau....

Begitu banyak kejutan yang memanjakan mata dan membuat bahagia dalam perjalanan saya kali ini. Tetapi tidak hanya sampai disini, masih ada kejutan-kejutan lainnya.

Bersambung.....

Wednesday, February 1, 2017

Tulang Jambal Bukan Kuliner Abal-abal

Bandung. Tulang jambal? Saya perlu berpikir keras untuk mengiyakan ajakan makan tulang jambal dari seorang teman kantor. Tetapi sudah hampir jam tiga sore, kami terlambat makan siang.

Kami menuju Jalan Tirtayasa, Bandung ketika cuaca mendung. Lalu berhenti di sebuah rumah yang bertuliskan Tulang Jambal dengan kalimat slogan di bawahnya: my eat and travel story.

Sesore ini masih banyak orang yang makan di restoran itu. Sambil makan, mereka berbincang dengan seru. Kami bertiga masuk, duduk, dan memesan makanan yang tertera pada menu.

Tanpa perlu berlama-lama kami sepakat memesan menu yang sama. Paket nasi tulang jambal dan tempe tahu. Juga tiga gelas teh tawar panas tak terlupa.

[caption id="attachment_1074" align="aligncenter" width="702"] rmuah makan tulang jambal, foto: myeatandtravelstory.wordpress.com[/caption]

Pesanan kami datang tak terlalu lama. Warna merah merona membalut tulang jambal yang terhidang. Tentu saja itu warna cabai merah yang diolah menjadi sambal. Tulang jambal dan sambal. Menantang.

Aih! Pedas nian. Sepertinya rasa pedas tingkat tinggi ini berasal dari jenis cabai yang digunakan. Jika diperhatikan dengan seksama ada biji-bijian berwarna hitam menyatu di dalam sambal. Itu berasal dari cabe gendot. Konon kabarnya, cabe gendot ya begitu itu. Pedas tanpa ampun.

Selain tulang jambal, ada tambahan tempe bacem dan tahu goring. Tapi ya keduanya tidak menjadi fokus saya kali ini. Tulang jambal adalah yang utama. Sampai-sampai tulang-tulang tak berdaging itu (namanya juga tulang kan) kandas lebih dulu sebelum nasi habis. Untung saja teman saya memahami kerakusan saya, ia pesan satu porsi tulang jambal lagi.

[caption id="attachment_1073" align="aligncenter" width="800"]tulang jambal, foto: travel today tulang jambal, foto: travel today[/caption]

Tulang jambal memang benar-benar terdiri dari tulang ikan jambal dengan sisa daging ikan yang masih menempel. Kemudian diolah dengan tumisan cabai, tomat, dan lada hitam. Pengolahan seperti itu membuat tulang ikan terbebas dari bau anyir dan rasa asin yang berlebihan. Enak.

Sepaket nasi tulang jambal pesanan kami dibanderol dengan harga Rp 35.000,- dan teh tawar panas mesti ditebus dengan harga Rp 5.000,-. Menurut saya harganya pantas. Sebanding dengan rasanya yang pas.

[caption id="attachment_1075" align="aligncenter" width="1000"] rumah makan tulang jambal, foto: destinasibandung.co.id[/caption]

Rumah Makan Tulang Jambal ini buka setiap harinya mulai pukul 10 hingga 17 waktu setempat. Selain di Jalan Tirtayasa ada pula lokasi lain di Bale Balantik, Jalan Cisangkuy, Bandung. Anda dipersilakan memilih. Tetapi satu hal yang pasti, anda akan punya cerita tersendiri saat meninggalkan situs kuliner yang satu ini.

Tulang jambal: sedap!

Johanes Indra, traveltoday